Entri Populer

Selasa, 31 Desember 2013

Desa Pakumbulan

Kabupaten Pekalongan, tidak hanya kaya akan hasil produksi batik. Daerah ini ternyata juga menyimpan kekayaan hasil tenun akar wangi dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). Bahkan, semerbak akar wangi industri tenun dari Kabupaten Pekalongan, saat ini telah sampai ke daratan Timur Tengah. saat ini tenun ATBM dijadikan sebagai komoditas inti di Kabupaten Pekalongan, dengan produk intinya akar wangi. Industri tersebut dijadikan industri inti, karena jarang atau bahkan tidak ditemukan sentra industri serupa di daerah lain. Industri ATBM akar wangi di Desa Pakumbulan, Kecamatan Buaran, juga masuk dalam program one village one product (OVOP). Selain untuk kain, tenun ATBM juga dijadikan produk sajadah, aneka suvenir, dan kerajinan. Bahkan industri tersebut telah mendapat pengakuan nasional, dengan diraihnya sejumlah prestasi. industri tenun ATBM berperan penting dalam perekonomian masyarakat di desa Pakumbulan. Sekitar 90 persen warga Pakumbulan bergantung pada sektor usaha tersebut, sebagai pemilik usaha maupun tenaga kerja. Bahkan hampir setiap keluarga di Pakumbulan memiliki ATBM di rumahnya. Pakumbulan juga merupakan satu-satunya daerah yang memproduksi tenun ATBM dari bahan eceng gondok dan akar wangi. ATBM sudah ada di Desa Pakumbulan sejak puluhan tahun silam. Namun karena tergusur alat tenun mesin, sekitar tahun 1977, industri rakyat tersebut macet. Pada  1990,  sebagian warga mulai menenun kembali, dengan bahan baku utama mendong dan eceng gondok. Produk akar wangi berupa sajadah, diekspor ke negara-negara Timur Tengah, sedangkan tenun eceng gondok diekspor ke Hongkong, Taiwan, dan Jepang. Dalam sebulan, rata-rata ia membutuhkan 15 ton akar wangi.



Desa Pakumbulan merupakan salah satu wilayah dari 7 desa dan 3 kelurahan yang ada di Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalonganterletak pada dataran rendah Pulau Jawa diantara 109 0  - 110 0 BT dan 6 0 – 7 0 LS. Luas Wilayah Desa Pakumbulan Kecamatan Buaran 1,994 Km 2 , terdiri dari 10 RW dan 27 RT, dengan batas wilayah sebagai berikut :

  Sebelah Utara      : Simbang Wetan
  Sebelah Timur      : Watusalam
  Sebelah Selatan   : Salak Brojo dan Ambokembang
  Sebelah Barat      : Bligo
       Jarak Desa Pakumbulan dengan Ibu Kota Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan adalah 2 Km. Letak Posisi Kecamatan Dataran Rendah Tinggi dari permukaan laut  8 m dpl. Dengan tingkat / intensitas curah hujan sedang
        Jumlah Penduduk Desa Buaran Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan sampai dengan data akhir bulan juni  tahun 2013 sebanyak 4.412 Jiwa terdiri dari:                                                                             
  Laki-laki          :  2.238 jiwa.
  Perempuan         :  2.174 jiwa.
    Masyarakat Kecamatan Buaran merupakan masyarakat dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian pada industri pengolahan, terutama ATBM dan pertanian

Jenis Pekerjaan
Laki-laki
Perempuan
Petani
170
orang
8
 orang
Buruh tani
200
orang
95
 orang
Buruh migran perempuan
0
orang
235
 orang
Buruh migran laki-laki
3
orang
0
 orang
Pegawai Negeri Sipil
5
orang
1
 orang
Pedagang keliling
20
orang
6
 orang
Peternak
38
orang
orang
Nelayan
22
orang
0
 orang
Montir
4
orang
3
 orang
Bidan swasta
0
orang
1
 orang
Perawat swasta
1
orang
orang
Pembantu rumah tangga
0
orang
50
 orang
Pensiunan PNS/TNI/POLRI
1
orang
0
 orang
Pengusaha kecil dan menengah
90
orang
8
 orang
Dukun Kampung Terlatih
0
orang
2
 orang
Karyawan perusahaan swasta
834
orang
790
 orang

850

974

Senin, 30 Desember 2013

Asal Nama - Nama Desa di Kecamatan Buaran

DESA WONOYOSO

Wono Artinya Hutan/Alas
Yoso artinya Kekayaan / Koyo

Menurut sejarah, sebagian cerita dari orang tua, para ulama /Kyai, Wonoyoso kurang diketahui jelas tentang sejarah adanya Desa Wonoyoso hingga diberi nama Wonoyoso , yang memiliki makna atau arti Wono adalah Alas/hutan, Yoso berarti  Kekayaaan/koyo/nduwe. Konon diperkirakan berkaitan dengann berdirinya Pekalongan yaitu pada zaman Wali Cempo (Kemungkinan adalah Kiyai Cempaluk Kesesi) yang kemudian diteruskan oleh Para wali yang konon juga masih keturunan kerajaan Kraton Solo seperti Kyai Badgur, Kyai mayung, Kyai hasan Kamil, Kyai Kramat, Kyai Nur Salim, Kyai Kedib (lurah pada zaman Belanda VOC), dan Kyai Andurrohman, hingga pada saat sekarangpun tidak ada yang tau persis tentang berdirinya desa Wonoyoso.


DESA PAWEDEN

Paweden berasal dari kata PA – WEDEN yang artinya PA berarti Papan WEDEN dari bahasa jawa berarti Wedi atau Pasir

Desa Paweden dulu menurut cerita KIDARMO WONGSO adalah seorang tetunggulnya desa Paweden, bahwa desa Paweden berasal dari kata PA- WEDEN, yang artinya adalah PA berarti Papan atau tempat, sedangkan WEDEN atau WEDI Menurut bahasa Jawa berarti pasir , jadi Desa Paweden berarti Desa atau Tempat dimana tempat atau Tanah tersebut jika digali ada pasirnya.

DESA WATUSALAM

Berasal dari Kata Watu yang berarti Batu dan Salam Berarti Selamat

Asal muasal Desa Watusalam adalah dari 2 Padukuhan yaitu Dukuh Watujoyo yang terletak di Utara dann Dukuh Wonosalam yang terletak di Selatan. Watusalam  diambil dari kata Watu yang diambil dari kata Watujoyo dan Salam dari Kata Wonosalam digabung jadi Watusalam yang artinya yaitu WATU berarti Batu walaupun keras tetapi banyak manfaatnya Sedangkan SALAM artinya selamat  yang  arti keseluruhannya Watusalam yaitu Supaya Masyarakat Watusalam dapat berguna, Bermanfaat sesama dan selamat dunia akhirat.

DESA COPRAYAN

Berasal dari nama Ki Ageng Coproyo


Pada  Zaman dahulu kala ada seorang yang Babat di Desa tersebut  yaitu Ki Ageng Coproyo yang Truko dan Babat hutan sehingga luasnya  kurang lebih 1 desa kemudian memberikan Wasiat kepada warga pengikut yang akhirnya Desa wilayah tersebut  dinamai  Desa Coprayan


DESA PAKUMBULAN

Pakumbulan berarti Tempat untuk  Perkumpulan, berasal dari kata kembul yang berarti kumpul

Desa Pakumbulan konon menurut sejarah/cerita dulunya adalah tempat untuk perkumpulan para Auliya’-Auliya’ atau para Waliyulloh

KELURAHAN BLIGO

Bligo asal kata BALIHO = Kembali


Kelurahan Bligo yang semula Desa Bligo, bermula dari sebuah cerita seorang yang bernama PUTRO DRUWOLO (orang Bligo dari Mataram tahun 1905) ditantang seorang bernama Gento Coproyo (dari Coprayan=red) yang akhirnya perkelahian adu kekuatan. Gento Coproyo kalah dan ngeprok (NGEBRAK) di perempatan jalan (Jalan Raya Ngebrak = Red) Sehingga Wilayah itu dikenal Sebutan NGEBRAK dan DRUWOLO.

Kesaktian Putro Druwolo mengundang perhatian orang dan banyak yang mau mencoba adu kesaktian dan berbuat jahat di wilayah Druwolo, tetapi tidak ada yang berhasil / terkalahkan, dan orang-orang tersebut  disuruh kembali (bhs Jawa BALIHO). Pada saat kekuasaan Lurah WAHMAN (1920M/jaman Londo) istilah Balio menjadi nama desa ini BALIGO dan akhirnya diubah lagi menjadi BLIGO.

DESA KERTIJAYAN

KERTI berarti Tempat/Desa Jaya yang berarti JAYA

Desa Kertijayan berasal dari nama seorang Wali yang menyebarkan Agama Islam dan meninggal serta dimakamkan di Desa kami. Nama Wali tersebut dalah “KERTOJOYO” atas jasa-jasa wali tersebut diabadikan dan dijadikan nama Desa yaitu KERTIJAYAN 

DESA SIMBANGWETAN & KELURAHAN SIMBANGKULON

Berasal dari Kata WESI kemambang/ Kapal

Simbang Wetan dan Simbang Kulon dahulunya adalah laut yang dilalui Kapal orang pada jaman dahulu menyebutnya WESI KEMAMBANG, yang lama kelamaan menjadi daratan yang brtambah ke utara, jadi lautnya berganti/
bertambah ke Utara

Sekilas Kecamatan Buaran




Kondisi Geografi

Kecamatan Buaran merupakan salah satu wilayah dari 19 Kecamatan yang ada di Kabupaten Pekalongan  terletak pada dataran rendah Pulau Jawa diantara 109 0  - 110 0 BT dan 6 0 – 7 0 LS. Luas Wilayah Kecamatan Buaran 9,54 Km 2  terdiri dari 3 Kelurahan dan 7 Desa. Jumlah Dusun : 41 dan Jumlah RW : 82 Jumlah RT : 235 dengan batas wilayah sebagai berikut : 

 Sebelah Utara      : Kota Pekalongan. 
 Sebelah Timur     : Kabupaten Batang. 
 Sebelah Selatan   : Kec. Kedungwuni dan Kec. Karangdadap. 
 Sebelah Barat      : Kecamatan Tirto. 
Jarak Kecamatan Buaran dengan Ibu Kota Kabupaten Pekalongan adalah 25 Km. Letak Posisi Kecamatan Dataran Rendah Tinggi dari permukaan laut  8 m dpl. Dengan tingkat / intensitas curah hujan sedang
Kondisi Demografis
Jumlah Penduduk Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan sampai dengan data akhir bulan juni  tahun 2013 sebanyak 49.084 Jiwa terdiri dari :
-  Laki-laki          :  24.734 jiwa.
-  Perempuan       :  24.350 jiwa.
Masyarakat Kecamatan Buaran merupakan masyarakat agamis,  dimana sebagian besar penduduk beragama islam dengan tingkat ketaatan hukum agama sangat tinggi. Disamping itu Kecamatan Buaran merupakan masyarakat yang dinamis dimana  mayoritas penduduk bermata pencaharian pada industri pengolahan.  Jarak dengan Ibu Kota Kabupaten Pekalongan adalah 25 Km. Letak Posisi Kecamatan Dataran Rendah Tinggi dari permukaan laut  8 m dpl. Dengan tingkat / intensitas curah hujan sedang.
Berikut disampaikan Mata Pencaharian penduduk di Kecamatan Buaran Tahun 2013 sebagai berikut :

- Pertanian Tanaman pangan:      431
- Pertambangan dan Penggalian:         6
- Industri Pengolahan:   9.992    
- Listrik gas dan air:         0 
- Bangunan:   2.942 
- Perdagangan besar, eceran, Rumah makan:   4.755
- Pengangkutan, penggudangan & komunikasi:      339
- Jasa keuangan, asuransi, usaha sewa:   1.286
- Jasa kemasyarakatan:   2.261
         
Kecamatan Buaran sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di bidang industri pengelolaan  dan di bidang perdagangan. Dilihat dari tempat Kecamatan buaran terletak diantara perbatasan Kabupaten dan Kota Pekalongan yang merupakan tempat yang strategis untuk meningkatkan pertumbuhan